bangun

Kehidupan modern yang menghadirkan persaingan dan perubahan yang sangat dinamis seringkali memaksa banyak manusia untuk mencari terbosan-terobosan, mencari jalan alternative atau melakukan kreativitas agar berhasil memenangkan persaingan. Namun sayangnya banyak orang yang kemudian mengambil jalan pintas yang salah atau bahkan tidak sedikit yang menghalalkan segala cara demi meraih keberhasilan. Mengapa demikian ? Inilah indikasi karena banyaknya manusia yang tidak kokoh jiwanya.

Demikian juga kalau kita melihat dalam realitas kehidupan sekarang ini, mudah sekali ditemukan orang yang mengaku beragama tetapi tetap melakukan penyelewengan, korupsi, penipuan dan tindak pidana lainnya yang tidak sesusai dengan akhlaq umat yang beragama. Mengapa demikian ? Inilah indikasi bahwa banyak manusia yang meskipun mungkin beragama tetapi lemah jiwanya. Banyak manusia yang meskipun mengaku beragama tetapi tidak berkualitas jiwanya. Akibatnya banyak orang yang merasa meraih sukses, tetapi kesuksesannya tidak memberikan makna. Banyak orang yang meraih kekayaan, namun kekayaannya tidak memberikan arti bagi kemuliaan hidupnya. Kalaupun berhasil meraih kekuasaan, kekuasaannya tidak memberikan kesejahteraan bagi yang dipimpinnya. Inilah akibat dari manusia yang lemah jiwanya. Lantas bagaimana caranya memperkokoh jiwa kita ? Bagaimana meningkatkan kualitas jiwa kita ?

  • Memahami Hakekat Hidup.
    Berusahalah untuk mawas diri agar dapat mengenali diri sendiri lebih dalam. Manusia yang dapat mengenali dirinya, mengerti hakekat hidupnya akan dapat menemukan siapa Tuhannya yang sebenarnya. Mereka yang dapat menemukan Tuhannya akan memahami posisi dirinya dan mengerti tujuan tertinggi hidupnya. Manusia yang memahami dirinya, mengerti hakekat hidupnya dan mengenali siapa Tuhannya yang sebenarnya akan memiliki kekuatan jiwa.
  • Mencari ilmu lebih besar.
    Kecenderungan banyak manusia sekarang ini adalah mencari harta lebih besar dari pada mencari ilmu. Akibatnya banyak orang yang mendewakan harta, kemudian mudah menghalalkan segala cara demi meraih tujuan kekayaan harta. Sebaiknya mencari ilmu lebih besar dari pada mencari harta. Orang mengatakan bahwa 1 orang yang pandai (berilmu) lebih ditakuti syaithan dibanding 1000 orang yang rajin ibadah tetapi tidak berilmu. Maknanya adalah mereka yang memiliki ilmu tidak akan mudah tergoda oleh berbagai kehidupan duniawi yang menyilaukan yang sesungguhnya dalag godaan syaithan. Sedangkan orang yang tidak berilmu, mudah terjebak dalam kehidupan dunia kemudian mengabaikan nilai-nilai spiritualitas kebenaran. Karena orang yang berilmu mengetahui pintu-pintu syaithan dan lebih mampu menjaga ibadahnya, menjaga kekayaannya, menjaga kekuasaannya, menjaga kehidupannya dari riya dengan ilmu (ma’rifat)-nya yang dalam.
  • Mengendalikan Ego Dan Nafsu.
    Ibnu Qoyyim Az-Zaujiyah berkata : “Syahwat itu seperti kuda liar. Untuk menjinakkannya dan menaikinya perlu waktu lama dan pengorbanan yang tidak sedikit Karena itu jadilah orang yang mengendalikan kuda.” Mengendalikan hawa nafsu tentu tidaklah mudah, karena inilah perang terbesar sesungguhnya dalam kehidupan manusia. Banyak manusia yang kalah dan akhirnya menjadi orang yang berjiwa lemah dan terjerumus dalam kekangan hawa nafsunya. Mereka memperturutkan hawa nafsunya dengan menghalalkan segala cara. Ingin meraih kekayaan berlimpah dengan cara-cara yang tercela. Ingin menggapai kekuasaan dengan cara-cara yang tidak mulia. Ingin meraih kesuksesan bisnis dengan cara-cara yang melanggar moral dan etika, dan lain-lain sebagainya. Diperlukan latihan-latihan akan dapat menundukkan ego dan hawa nafsu kita. Salah satu cara yang sangat efektif dalam melatih diri kita mengendalikan ego dan nafsu adalah dengan ibadah puasa. Maka hendaklah puasa ramadhan ini benar-benar digunakan sebagai latihan dalam mengendalikan ego dan nafsu kita, sehingga berhasil melahirkan kekuatan jiwa. Ego dan nafsu pribadi seringkali membawa seseorang pada perasaan serba kurang, serba tidak cukup, merasa tidak pernah puas dengan apa yang diraih, sehingga menjadi manusia yang tidak mudah bersyukur. Hidup seperti ini menjadikan jiwanya lemah dan serba tidak damai dalam hatinya. Namun sebaliknya mereka yang memiliki kemampuan mengendalikan ego dan nafsu pribadinya akan menjadi manusia yang mudah bersyukur dan menjadikan dirinya selalu merasa hidupnya berkecukupan dan damai.
  • Memandang Kehidupan Dengan Seimbang.
    Orang bijak mengatakan, “Barangsiapa yang mengejar dunia semata, maka dunia akan semakin menjauh dan semakin tak terkejar. Tetapi, barangsiapa yang mengejar akhirat dengan keikhlasan hatinya, maka yakinlah bahwa dunia akan mengejarnya.” Maknanya adalah bagaimana kita dapat menyeimbangkan kehidupan ini dengan tetap realistis dalam kehidupan dunia yang modern tanpa mengabaikan tujuan tertinggi kehidupan akhirat nanti.
  • Kesuksesan dunia dengan berbagai simbul-simbulnya seperti kekayaan harta benda, kekuasaan, popularitas dan lain sebagainya adalah penting dan pantas untuk diperjuangkan. Namuan yang harus diperhatikan adalah cara-cara meraih simbul-simbul kesuksesan duniawi itu haruslah dilakukan melalui cara-cara yang dibenarkan oleh syariat yang ditetapkan Tuhan. Tidak melanggar norma, etika, moral, suara hati nurani yang merupakan suara kemuliaan Tuhan. Kemudian dapat menggunakan simbul-simbul kesuksesan yang diperolehnya untuk memberikan manfaat bagi kesuksesan kehidupan akhiratnya. Inilah yang saya maksukan dengan memandang kehidupan dengan seimbang. Tetap realistis dalam kehidupan modern dengan tetap memiliki idealisme pada nilai-nilai spiritualitas.